Di usia 37 tahun, Kevin Durant menciptakan momen penentu melawan mantan timnya dengan memasukkan tembakan penentu kemenangan di detik-detik terakhir, membawa Houston Rockets mengalahkan Phoenix Suns. Ini bukan sekadar buzzer-beater — melainkan respons emosional terhadap kritik, kekecewaan, dan perpisahan menyakitkan yang masih membekas.
Sebuah Tembakan yang Didorong oleh Sejarah, Bukan Sekadar Waktu
Ini bukanlah tembakan penentu biasa. Ini adalah pelepasan emosi dari dua setengah tahun penuh ekspektasi, frustrasi, dan perasaan yang belum terselesaikan.
Saat skor imbang dan waktu hampir habis, Kevin Durant menerima inbound pass dari sisi lapangan. Di depannya berdiri Royce O’Neale, wajah yang familiar dari masa-masanya di Phoenix. Dua dribel cepat ke kanan, loncatan terkontrol, dan pelepasan yang bersih.
Bola masuk ke ring dengan sisa waktu 1,1 detik, memastikan kemenangan Houston 100–97 atas Phoenix. Tidak ada bek yang mampu mengganggu tembakan itu. Tidak ada keraguan dalam gerakannya. Itu adalah momen kejernihan dari seorang pemain yang dalam beberapa musim terakhir lebih sering menjawab pertanyaan tentang penurunan performa ketimbang kemampuannya.
Bagi para penggemar Suns, momen ini terasa semakin pahit. Hanya sehari sebelumnya, Devin Booker mencetak tembakan tiga angka penentu kemenangan di menit akhir untuk mengalahkan Oklahoma City. Kali ini, Phoenix berada di sisi sebaliknya dari skenario tersebut — dan Durant adalah penulis ceritanya.

“Mereka Mengusir Saya”: Durant Tentang Menghadapi Mantan Timnya
Durant, yang biasanya tertutup dalam sesi pascapertandingan, mengakui bahwa tembakan ini memiliki makna lebih.
“Pasti terasa lebih berarti,” ujarnya. “Ini adalah tempat yang sebenarnya tidak ingin saya tinggalkan. Saya tidak ingin terdengar terlalu dramatis, tapi itu kenyataannya — saya diusir.”
Ia melanjutkan dengan membahas sisi emosional dari perpisahan tersebut:
“Rasanya menyenangkan mengalahkan tim yang menutup pintu untukmu dan menjadikanmu kambing hitam atas segalanya. Itu menyakitkan, karena saya memberikan semua yang saya punya — energi saya, kecintaan saya pada permainan — untuk Phoenix dan organisasinya. Tapi begitulah bisnis ini. Saat bermain melawan mantan tim, ya, ada rasa kesal di sana.”
Durant menghabiskan dua setengah musim bersama Phoenix setelah sebuah pertukaran besar yang mengguncang liga. Selama periode itu, ia dua kali terpilih sebagai All-Star bersama Suns, namun tidak pernah membawa tim tersebut mencapai kesuksesan playoff seperti yang mereka harapkan. Pada musim terakhirnya, Phoenix bahkan gagal menembus turnamen play-in meskipun memiliki skuad dengan beberapa nama yang secara nominal berstatus bintang.
Seiring kekalahan bertambah, kritik pun bermunculan. Pertanyaan muncul tentang usia Durant, kepemimpinannya, dan gaya bermainnya. Pada musim panas 2025, Suns memilih untuk melakukan reset, mengirim Durant ke Houston dalam sebuah kesepakatan yang membawa kembali Dillon Brooks, Jalen Green, dan pilihan draft ke-10.
Pernyataan Houston — dan Jawaban Durant atas Keraguan
Sejak pertukaran tersebut, Houston mendominasi pertemuan musim ini melawan Phoenix. Rockets mengalahkan Suns sekali tanpa Durant pada November, kemudian kembali menang bersamanya pada Desember tanpa banyak perlawanan, dan kini meraih kemenangan ketiga — yang kali ini ditentukan pada penguasaan bola terakhir.
Durant mengakhiri laga sebagai figur sentral, bukan hanya lewat tembakan penentu, tetapi juga sebagai jawaban paling jelas atas keraguan yang terus menyertai ketahanannya.
“Saya ingin menunjukkan kepada orang-orang bahwa saya masih punya sesuatu,” kata Durant sebelumnya musim ini. “Meski saya lebih tua, saya masih bisa bermain.”
Di usia 37 tahun, pesannya terus bergema di lapangan.
Yang penting, Durant juga menegaskan perbedaan antara individu dan institusi. Rasa frustrasinya, jelasnya, tidak pernah ditujukan kepada mantan rekan setim.
“Untuk para pemain, semuanya penuh rasa hormat,” katanya. “Saya hanya ingin mengalahkan tim itu. Tidak ada niat buruk terhadap mereka.”
Lalu, dengan sedikit ironi, ia mencoba meredam bobot emosional momen tersebut.
“Ketika saya sampai di rumah malam ini, mungkin saya bahkan tidak akan memikirkannya,” ujar Durant sambil tersenyum. “Maksud saya, saya akan mengingatnya — tapi saya akan berusaha melanjutkan.”
Kisah Balas Dendam Klasik ala NBA
Olahraga sering kali hidup dari momen-momen seperti ini — bukan semata karena kemarahan, melainkan karena maknanya. Tembakan penentu Durant melawan Phoenix bukan sekadar sorotan. Itu adalah pengingat bahwa pemain elite tidak menghilang begitu saja, dan bahwa sejarah pribadi masih bisa membentuk momen-momen terbesar di lapangan.
Di usia 37 tahun, Kevin Durant sekali lagi membuktikan bahwa waktu belum mengikis ketajamannya — maupun kemampuannya untuk tampil menentukan saat paling dibutuhkan.
Statistik Pertandingan
Houston Rockets 100, Phoenix Suns 97
(6 Januari, Toyota Center)
Houston:
Kevin Durant — 26 poin, 10 rebound
Amen Thompson — 17 poin, 7 rebound, 6 assist
Jabari Smith Jr. — 17 poin, 7 rebound
Tari Eason — 12 poin, 8 rebound
Steven Adams — 8 poin, 11 rebound
Cadangan:
Reed Sheppard — 11 poin
Aaron Holiday — 4 poin
Dorian Finney-Smith — 3 poin
Phoenix:
Devin Booker — 27 poin
Royce O’Neale — 15 poin
Dillon Brooks — 15 poin
Collin Gillespie — 11 poin
Williams — 4 poin, 8 rebound
Cadangan:
Jordan Goodwin — 11 poin
Ighodaro — 9 poin, 8 rebound
Apa Arti Hasil Ini ke Depan
Kemenangan ini semakin memperkuat posisi Houston di klasemen Wilayah Barat, sementara Phoenix masih mencari konsistensi di tengah periode sulit musim ini. Dengan hasil head-to-head yang semakin memengaruhi perebutan tempat playoff, pertandingan seperti ini bisa menjadi penentu penting di fase akhir musim.
Untuk pembaruan terbaru mengenai rekor tim, persaingan konferensi, dan posisi playoff, kunjungi bagian klasemen NBA kami, yang diperbarui setiap hari sepanjang musim reguler.


